MAKALAH MIKROBIOLOGI TERAPAN
“RESISTENSI MIKROBA”
OLEH
KELOMPOK I
CHRISMAN PARRO
ADRIANI MADA
STEFANNY RENANTA
RESKI ALAMI PUTRI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013
KATA
PENGANTAR
Puji dan
syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat, rahmat dan
hidayah-Nya lah sehingga kami masih diberikan
kesehatan untuk menyelesaikan makalah ini.
Makalah yang kami buat ini bejudul “Resistensi Mikroba” yang kami susun sebagai bahan diskusi pada mata kuliah “Mikrobiologi
Farmasi Terapan” pada jurusan
FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR Makassar tahun akademik 2012/2013 meskipun
dalam penyusunan makalah ini terdapat beberapa hambatan dan kesulitan yang di hadapi namun berkat
bimbingan dan arahan dari dosen hal tersebut dapat di atasi, sehingga kami tak lupa mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar besarnya
kepada pihak yang telah membantu kami.
Penyusun menyadari bahwa
dalam pembuatan makalah
ini masih banyak terdapat
kekurangan oleh karenanya saran dan
kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaan bersama.
Semoga dengan
tersusunya makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi para pembaca terutama bagi
penyusun.
Makassar, 7 Januari 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Pada kehidupan sehari-hari utamanya pada masyarakat
awam,sering kita jumpai seseorang yang mengkomsumsi obat tanpa resep dari
seorang dokter,hal ini dikarenakan beredarnya
obat-obatan yang sebenarnya tidak
boleh di jual bebas. Mereka dengan mudahnya membeli suatu obat lalu
mengkomsumsinya tanpa mengetahui sejauh mana pengaruh obat tersebut terhadap
dirinya.
Pengkomsumsian suatu
obat tanpa memenuhi prosedural tertentu akan menyebabkan kesalahan teknis,yang
tentunya akan merugikan diri sendiri,,misalnya saja dengan memakan obat antibiotik
yang tidak teratur dengan kuantitas berkali-kali maka tidak menutup kemungkinan
dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan resistensi terhadap golongan antibiotik
tersebut.
Pada umumnya masyarakat
tidak mengetahui apa itu resistensi,nah di sinilah peran seorang farmasis untuk
meluruskan beberapa pemahaman yang sering muncul karena minimnya informasi yang
menunjang.
Menurut
defenisi kami resistensi itu sendiri adalah tidak berefeknya suatu obat
terhadap tubuh manakala obat tersebut dikomsumsi. Mengapa dan kenapa hal
tersebut bisa terjadi ??? untuk mengetahuinya simaklah makalah kami ini pada
lembaran berikutnya.
B.Rumusan Masalah
BAB
II
ISI
A. Pengertian resistensi mikroba
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa
yang dimaksud antibiotik adalah suatu zat pembunuh bakteri
yang merupakan suatu obat yang dapat membunuh atau memperlambat pertumbuhan
bakteri. Antibiotik tidak punya efek melawan virus, jamur, atau benalu.
Antibiotik adalah satu kelas antimicrobials, suatu kelompok lebih besar yang
juga meliputi anti-viral, anti-fungal, dan obat anti-parasitik (Dentosca,2011).
Ketidakrasionalan
penggunaan antibiotik mendorong terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik
di dunia. Masalah ini menimbulkan ancaman pandemi. Hal itu mengemuka dalam
seminar Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention di Jakarta, Kamis
(7/4), dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia (Kompas.com).
Resistensi
antimikroba (antimicrobial resistance) adalah hasil dari mikroba mengubah
cara-cara yang mengurangi atau menghilangkan efektivitas obat, bahan kimia,
atau agen lain untuk menyembuhkan atau mencegah infeksi.
Resistensi antimikroba
(kemudian disebut dengan Anti Microbial Resistence/AMR) adalah resistensi yang
terjadi oleh mikroorganisme terhadap obat-obat antimikroba untuk yang
sebelumnya sensitif. Organisme yang resisten (termasuk diantaranya adalah
bakteri, virus dan beberapa parasit) mampu melawan serangan obat-obatan
antimikroba, seperti antibiotik, anti-virus, dan anti-malaria, sehingga
pengobatan standar menjadi tidak efektif lagi. Sehingga infeksi yang muncul
akan bertahan dan dapat menyebar kepada orang atau populasi lain. AMR merupakan
konsekuensi logis dari penggunaan antimikroba. Termasuk didalamnya adalah
penggunaan reguler maupun penyalahgunaan. Obat-obatan antimikroba akan menjadi
resisten ketika mikroorganisme bermutasi atau mengakuisisi suatu gen
(Khalifan,2011).
Resistensi sel
mikroba merupakan suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh
antimikroba. Secara umum resistensi dapat diartikan suatu keadaan dimana organisme
secara normal mempunyai kemampuan untuk menentang agen di sekitarnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangannya secara alamiah. Pada keadaan tertentu, apabila interaksi antara
obat dengan mikroba kurang baik atau tidak terjadi sama sekali, maka dinyatakan
bahwa antibiotika tersebut telah resisten terhadap mikroba tertentu.
B. Mengapa AMR
(Anti Microbial Resistence) menjadi isu yang penting
?
- Infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang resisten sering kali tidak berhasil diobati menggunakan pengobatan standar antimikroba.
- Dengan demikian memperpanjang durasi dan angka kesakitan serta meningkatkan angka kematian.
- AMR akan menurunkan efektifitas pengobatan dan perbesar peluang terjadinya infeksi kepada orang lain.
- Beberapa infeksi menjadi tidak dapat dikendalikan.
- AMR akan meningkatkan biaya kesehatan.
- Dengan semakin mudahnya transportasi, maka AMR juga akan semakin mempercepat penyebaran infeksi ke hampir seluruh dunia
Setiap tahunnya terdapat
sekitar 440.000 kasus baru multi drug resistant tuberculosis (MDR-TB).
Tingginya kejadian MDR ini menyebabkan sekitar 150.000 kematian karena TB .
Namun juga telah dilaporkan kasus extensively drug resistant tuberculosis
(XDR-TB) di 64 negara.
Juga
telah terjadi peningkatan resistensi terhadap obat antimalaria generasi awal
seperti klorokuinine dan sulfadoxine-pyrimethamine. Peningkatan ini terjadi di
negara-negara yang sebagian besar endemis terhadap malaria. Di negara-negara
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah terjadi peningkatan resistensi
artemisin terhadap Malaria falciparum.
Beberapa infeksi nosokomial ternyata disebabkan
oleh bakteri yang sudah sangat resisten, misalnya methicillin-resisten
Staphylococcus aureus (MRSA) dan vancomycin-resistant enterococci(Burner.com).
C.Penggolongan Resistensi Mikroba
Resistensi mikroorganisme dapat dibedakan menjadi :
1. Resistensi primer (bawaan)
Resistensi
primer merupakan resistensi yang menjadi sifat alami
mikroorganisme. Hal ini misalnya dapat disebabkan oleh adanya enzim pengurai
antibiotik pada mikroorganisme sehingga secara alami mikroorganisme dapat
menguraikan antibiotik. Contohnya adalah Staphylococcus dan bakteri
lainnya yang mempunyai enzim penisilinase yang dapat menguraikan penisilin dan
sefalosporin. Mekanisme resistensi bawaan ini juga dapat berupa terdapatnya
struktur khusus pada bakteri yang melindunginya dari paparan antimikroba,
contohnya bakteri TB dan lepra memiliki kapsul pada dinding sel, sehingga resisteniterhadapiobat-obatiantimikroba.
2.Resistensi sekunder.
Mekanisme resistensi sekunder (dapatan) diperoleh
akibat kontak dengan agen antimikroba dalam waktu yang cukup lama dengan
frekunsi yang tinggi, sehingga memungkinkan terjadinya mutasi pada mikroorganisme.
Terbentuknya mutan yang resisten terhadap obat antimikroba dapat secara cepat
(resistensi satu tingkat) dan dapat pula terjadi dalam kurun waktu yang lama
(resistensi multi tingkat). contoh resistensi satu tingkat adalah pada INH,
streptomisin, dan tifampisin; dan contoh resistensi multitingkat adalah
resistensi pada penisilin, eritromisin, dan tetrasiklin.terbentuknya mutan
mikroorganisme yang resistan terhadap antimikroba ini dapat menimbulkan adanya
ketergantungan (dependensi) mikroorganisme mutan tehadap agen antimikroba.
Mekanisme resistensi dapatan juga dapat
berlangsung akibat adanya mekanisme adaptasi atau penyesuaian aktivitas
metabolisme mikroorganisme untuk melawan efek obat, contohnya dengan perubahan
pola enzim. Dengan demikian, mikroorganisme dapat membentuk enzim yang
menguraikan antibiotic. Misalnya pembentukan enzim penisilinase untuk
menguraikan penisilin, enzim asetilase terhadap streptomisin, kanamisin, dan
neomisin.
Mekanisme resistensi dapatan yang lain adalah
dengan memperkuat diding sel mikroorganisme sehingga menjadi impermeable
terhadap obat, dan perubahan sisi perlekatan pada diding sel. Adapula
mimroorganisme yang melepaskan diding selnya sehingga menjadi tidak peka lagi
terhadap penisilin, contohnya kuman berbentuk L.
3.Resistensi episomal
Resistensi episomal disebabkan oleh faktor
genetik di luar kromosom (episom=plasmid pada plasmidnya yang
dapat menular pada bakteri lain yang memilki kaitan spesies melalui kontak sel
secara konjugasi maupun transduksi. Contohnya Salmonella, Escherichia,
Yersinia, Klebsiela, Serratia, Proteus (Zainal,2010)
D.Mekanisme Resistensi Mikroba
1. Resistensi Alamiah
Faktor yang menentukan sifat resistensi atau
sensitivitas mikroba terhadap antimikroba terdapat pada elemen yang bersifat genetik.
Didasarkan pada lokasi elemen untuk resistensi ini, dikenal resistensi kromosom
dan resistensi ekstrakromosomal. Sifat genetik dapat menyebabkan suatu mikroba
sejak awal resistensi terhadap suatu antimikroba. Resistensi ini disebut
resistensi genetika atau resistensi bawaan atau resistensi alamiah
2. Resistensi Didapat
Mikroba yang semula peka terhadap suatu
antimikroba dapat berubah sifat genetiknya menjadi kurang atau tidak peka.
Perubahan sifat genetik terjadi karena kuman memperoleh elemen genetik
yang membawa sifat resisten. Resistensi ini disebut dengan resistensi didapat (acquired
resistant). Elemen resistensi ini dapat diperoleh dari luar dan
disebut resistensi yang dipindahkan (transferred resistant), dapat juga
terjadi akibat mutasi genetik spontan atau akibat rangsangan anti mikroba (induced
resistant).
Kemampuan bakteri resistensi untuk tetap tumbuh
dan multifikasi dengan kehadiran antimikroba menggambarkan adanya
perbedaan genetika bakteri resisten dengan bakteri yang sensitif. Bagaimana
terjadinya perubahan genetika dari bakteri yang sensitif menjadi bakteri yang
resisten terhadap anti biotika belum dapat dijelaskan secara pasti.
Dengan mutasi spontan gen mikroba berubah,
sehingga yang sensitif terhadap suatu antimikroba menjadi resisten. Dengan
adanya antimikroba tersebut terjadi seleksi, strain yang masih sensitif
terbasmi, sehingga berakhir dengan terbentuknya populasi resisten.
Mikroba dapat berubah resisten akibat memperoleh
suatu elemen pembawa faktor resisten. Faktor ini mungkin didapat dengan cara
transformasi, transduksi atau konyugasi. Dengan transformasi, mikroba
menginkorporasi faktor-faktor langsung dari media disekitarnya (lingkungannya).
Pada transduksi, faktor resistensi dipindahkan dari suatu mikroba resisten ke
mikroba sensitif dengan perantara bakteriofag. Dalam hal ini yang dipindahkan
adalah suatu komponen DNA dari kromosom yang mengandung faktor resisten
tersebut. Dengan konyugasi terbentuk hubungan langsung antara isi sel bakteri
khususnya komponen yang membawa faktor resistensi. Faktor resistensi yang
dipindahkan terdapat dalam dua bentuk yaitu plasmid dan episom. Plasmid
merupakan suatu elemen genetik (DNA-plasmid) yang terpisah dari DNA-kromosom,
jadi merupakan suatu DNA non kromosom. Tidak semua plasmid dapat dipindahkan.
Yang dapat dipindahkan adalah plasmid faktor R, disebut plasmid penular (infectious plasmids).
Faktor R ini terdiri dari dua unit yaitu segmen RTF (resistance
transfer factor) dan determinan-r (unit-r).Segmen RTF memungkinkan
terjadinya perpindahan faktor R. Masing-masing unit-r membawa sifat resistensi
terhadap satu unit mikroba. Dengan demikian berbagai unit-r pada 1 plasmid
faktor R membawa sifat resistensi terhadap berbagai anti mikroba sekaligus (Staf Pengajar
Universitas Indonesia,1998).
E.Resistensi pada HIV
Resistensi juga
menjadi masalah yang serius terhadap terapi ART untuk terapi HIV dan AIDS.
Dengan semakin luasnya penggunaan ART dalam beberapa tahun belakangan ini,
sangat diperlukan sebuah survei nasional untuk mendeteksi dan memonitor efek
resistensi virus HIV terhadap pengobatan ART. Resistensi terhadap pengobatan
HIV di Indonesia masih belum terlalu tinggi. Binomial sequential sampling
technique yang dilakukan medio 2006-2008 memprediksi bahwa prevalensi
resistensi di kalangan IDU pengguna ART di Jakarta masih di bawah 5%. Binomial
sequential sampling technique yang dilakukan medio 2006-2008 memprediksi bahwa
prevalensi resistensi di kalangan IDU pengguna ART di Jakarta masih di bawah
5%.
Sedangkan secara global, survei yang dilakukan
pada 52 negara (tidak termasuk Indonesia), menunjukkan bahwa tingkat
resistensi, lost of follow up dan gagal pengobatan menunjukkan tren
peningkatan. Di Amerika dan Eropa angkanya berkisar antara 17%. Mungkin kita
sedikit beruntung dikarenakan masuknya HIV ke Indonesia terlambat jika
dibandingkan dengan Amerika. Namun sangat berpotensi untuk terjadinya
resistensi mengingat sampai saat ini sebanyak 50% pengobatan HIV di Indonesia
mengalami lost of follow up. Sementara saat ini HIV-Drug Resistence Monitoring
survey sedang dilakukan sebagai uji coba di salah RS di Jakarta terhadap 110
sampel dari 165 orang yang eligible. Kemudian diikuti secara kohort sehingga
hanya tinggal 76 sampel yang diteliti. Menunjukkan bahwa 1st regimen yang
diberikan pengobatan masih memberikan respon (terjadi peningkatan CD4 dari
rata-rata 70 menjadi 96).
Resistensi ART bisa acquired maupun transmitted.
Jika seorang ODHA mengalami resistensi dikarenakan adherence pengobatan yang
buruk maka disebut sebagai acquired resistensi. Sedangkan jika seseorang
mengalami resisten karena virus yang didalam tubuhnya sudah resisten pada saat
pertama kali terinfeksi, maka disebut sebagai transmitted resistensi.
Di Indonesia akan dikembangkan HIVDR Threshold
Survey di tahun 2011 ini yang berfokus di Surabaya dan Bali dengan sasarannya
pada transmisi seksual, baik pekerja seks, waria maupun perempuan berisiko
lainnya. Pada tahun 2010 telah dilakukan HIVDR monitoring survey di 3
tempat. Setiap tahunnya direncakanan ada 3 tempat baru. Sehingga semakin lama
semakin banyak RS yang melakukan HIV DR Monitoring survey. Lab
Mikrobiologi UI saat ini sedang menunggu akreditasi WHO untuk dapat
melaksanakan HIVDR genotyping. Diharapkan tahun 2012 Surabaya sudah dapat
menjadi centre untuk wilayah timur.
Problem resistensi mikroorganisme terhadap
antibiotik mula-mula ditemukan pada tahun 1980-an dengan ditemukannya kasus
multipel resisten pada strain bakteri Streptococcus pneumoniae, Mycobacterium
tuberculosis, Staphylococcus aureus, dan Enterococcus faecalis. Semakin
tingii penggunaan antibiotik semakin tinggi pula tekanan selektif proses
evolusi dan poliferasi strain mikroorganisme yang bersifat resisten.
Mikroorganisme patogen yang resisten terhadap antibiotik sangat sulit
dieliminasi selama proses infeksi, dan infeksi oleh beberapa strain bakteri
dapat berakibat kematian .
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance) adalah hasil dari mikroba mengubah cara-cara yang mengurangi atau
menghilangkan efektivitas obat, bahan kimia, atau agen lain untuk menyembuhkan
atau mencegah infeksi.
2. Resintensi mikroba dapat digolongkan menjadi tiga yaitu
resitensi primer,sekunder dan episomal.
3. Mekanisme resitensi ada dua yaitu resistensi alamiah
dan resistensi didapat
B. Saran
Kami sebagai penyusun makalah ini menyarankan kepada
para pembaca untuk senantiasa menyampaikan suatu ilmu yang telah diketahui terutama
materi yang kami kaji saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dentoscahttp://dentosca.wordpress.com/2011/04/16/ulkus-kemoterapeutik/ diakses tanggal 6 januari 2013.
Desanti, Desi. 2011.http://www.anneahira.com/mekanisme-kerja-antibiotik.html. diakses tanggal 6 januari 2013.
Khalifan Utomo.2011.http://khalifan2011.student.umm.ac.id/2011/08/12/antibiotik/ diakses tanggal
6 januari 2013.
Mujab, Agus
Saeful Mujab. 2011.http://asm-web.blogspot.com/2011/04/antibiotik-tak-rasional-bisa-ada.html) diakses
tanggal 6 januari 2013.
Pelczar, Michael
dan Chan. ECs. 1988. Dasar-dasar Mikro
Biologi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Promote
Burner.com . 2009. http://wempigembul.blogspot.com/2009/10/antibiotik.html
diakses tanggal 6 januari 2013.
Staf pengajar
Universitas Indonesia. 1998. Buku Ajar
Mikro Biologi Kedokteran. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Zainal Abidin, Muhammad. 2010. http://www.masbied.com/2010/06/03/antibiotik/. Diakses
tanggal 6 januari 2013.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking