Woensdag 06 Maart 2013

resistensi antimikroba,,..,



MAKALAH MIKROBIOLOGI TERAPAN
“RESISTENSI MIKROBA”



OLEH
KELOMPOK I

CHRISMAN PARRO
ADRIANI MADA
STEFANNY RENANTA
RESKI ALAMI PUTRI




FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat, rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga kami masih diberikan kesehatan untuk menyelesaikan makalah ini.
            Makalah yang kami buat ini bejudul “Resistensi Mikroba  yang kami susun sebagai bahan diskusi pada mata kuliah Mikrobiologi Farmasi Terapan pada jurusan FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR  Makassar tahun akademik 2012/2013 meskipun dalam penyusunan makalah ini terdapat beberapa hambatan  dan kesulitan yang di hadapi namun berkat bimbingan dan arahan dari dosen hal tersebut dapat  di atasi, sehingga kami tak lupa mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada pihak yang telah membantu kami.
           Penyusun menyadari  bahwa dalam  pembuatan  makalah  ini masih banyak  terdapat kekurangan oleh karenanya saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaan bersama.
Semoga dengan tersusunya makalah ini dapat  memberikan  manfaat bagi para pembaca terutama bagi penyusun.

Makassar, 7  Januari 2013

       Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
       Pada kehidupan sehari-hari utamanya pada masyarakat awam,sering kita jumpai seseorang yang mengkomsumsi obat tanpa resep dari seorang dokter,hal ini dikarenakan beredarnya  obat-obatan  yang sebenarnya tidak boleh di jual bebas. Mereka dengan mudahnya membeli suatu obat lalu mengkomsumsinya tanpa mengetahui sejauh mana pengaruh obat tersebut terhadap dirinya.
            Pengkomsumsian suatu obat tanpa memenuhi prosedural tertentu akan menyebabkan kesalahan teknis,yang tentunya akan merugikan diri sendiri,,misalnya saja dengan memakan obat antibiotik yang tidak teratur dengan kuantitas berkali-kali maka tidak menutup kemungkinan dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan resistensi terhadap golongan antibiotik tersebut.
            Pada umumnya masyarakat tidak mengetahui apa itu resistensi,nah di sinilah peran seorang farmasis untuk meluruskan beberapa pemahaman yang sering muncul karena minimnya informasi yang menunjang.
            Menurut defenisi kami resistensi itu sendiri adalah tidak berefeknya suatu obat terhadap tubuh manakala obat tersebut dikomsumsi. Mengapa dan kenapa hal tersebut bisa terjadi ??? untuk mengetahuinya simaklah makalah kami ini pada lembaran berikutnya.
B.Rumusan Masalah
*      Pengertian resistensi mikroba
*      Pentingnya Anti Microbial Resistence/AMR
*      Penggolongan resistensi mikroba
*      Mekanisme resistensi mikroba
*      Resistensi pada HIV






BAB II
ISI
A.  Pengertian resistensi mikroba
Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa yang dimaksud antibiotik adalah suatu zat pembunuh bakteri yang merupakan suatu obat yang dapat membunuh atau memperlambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik tidak punya efek melawan virus, jamur, atau benalu. Antibiotik adalah satu kelas antimicrobials, suatu kelompok lebih besar yang juga meliputi anti-viral, anti-fungal, dan obat anti-parasitik (Dentosca,2011).
Ketidakrasionalan penggunaan antibiotik mendorong terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik di dunia. Masalah ini menimbulkan ancaman pandemi. Hal itu mengemuka dalam seminar Antimicrobial Resistance-Containment and Prevention di Jakarta, Kamis (7/4), dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia (Kompas.com).
Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance) adalah hasil dari mikroba mengubah cara-cara yang mengurangi atau menghilangkan efektivitas obat, bahan kimia, atau agen lain untuk menyembuhkan atau mencegah infeksi.
Resistensi antimikroba (kemudian disebut dengan Anti Microbial Resistence/AMR) adalah resistensi yang terjadi oleh mikroorganisme terhadap obat-obat antimikroba untuk yang sebelumnya sensitif. Organisme yang resisten (termasuk diantaranya adalah bakteri, virus dan beberapa parasit) mampu melawan serangan obat-obatan antimikroba, seperti antibiotik, anti-virus, dan anti-malaria, sehingga pengobatan standar menjadi tidak efektif lagi. Sehingga infeksi yang muncul akan bertahan dan dapat menyebar kepada orang atau populasi lain. AMR merupakan konsekuensi logis dari penggunaan antimikroba.  Termasuk didalamnya adalah penggunaan reguler maupun penyalahgunaan.  Obat-obatan antimikroba akan menjadi resisten ketika mikroorganisme bermutasi atau mengakuisisi suatu gen (Khalifan,2011).
Resistensi sel mikroba merupakan suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antimikroba. Secara umum resistensi dapat diartikan suatu keadaan dimana organisme secara normal mempunyai kemampuan untuk menentang agen di sekitarnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya secara alamiah. Pada keadaan tertentu, apabila interaksi antara obat dengan mikroba kurang baik atau tidak terjadi sama sekali, maka dinyatakan bahwa antibiotika tersebut telah resisten terhadap mikroba tertentu.
B.  Mengapa AMR (Anti Microbial Resistence) menjadi isu yang penting ?
  • Infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang resisten sering kali tidak berhasil diobati menggunakan pengobatan standar antimikroba.
  • Dengan demikian memperpanjang durasi dan angka kesakitan serta meningkatkan angka kematian.
  • AMR akan menurunkan efektifitas pengobatan dan perbesar peluang terjadinya infeksi kepada orang lain.
  • Beberapa infeksi menjadi tidak dapat dikendalikan.
  • AMR akan meningkatkan biaya kesehatan.
  • Dengan semakin mudahnya transportasi, maka AMR juga akan semakin mempercepat penyebaran infeksi ke hampir seluruh dunia
Setiap tahunnya terdapat sekitar 440.000 kasus baru multi drug resistant tuberculosis (MDR-TB). Tingginya kejadian MDR ini menyebabkan sekitar 150.000 kematian karena TB . Namun juga telah dilaporkan kasus extensively drug resistant tuberculosis (XDR-TB) di 64 negara.
Juga telah terjadi peningkatan resistensi terhadap obat antimalaria generasi awal seperti klorokuinine dan sulfadoxine-pyrimethamine. Peningkatan ini terjadi di negara-negara yang sebagian besar endemis terhadap malaria. Di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah terjadi peningkatan resistensi artemisin terhadap Malaria falciparum.
Beberapa infeksi nosokomial ternyata disebabkan oleh bakteri yang sudah sangat resisten, misalnya methicillin-resisten Staphylococcus aureus (MRSA) dan vancomycin-resistant enterococci(Burner.com).
C.Penggolongan Resistensi Mikroba
Resistensi mikroorganisme dapat dibedakan menjadi :
1.     Resistensi primer (bawaan)
           Resistensi primer merupakan resistensi yang menjadi sifat alami mikroorganisme. Hal ini misalnya dapat disebabkan oleh adanya enzim pengurai antibiotik pada mikroorganisme sehingga secara alami mikroorganisme dapat menguraikan antibiotik. Contohnya adalah Staphylococcus dan  bakteri lainnya yang mempunyai enzim penisilinase yang dapat menguraikan penisilin dan sefalosporin. Mekanisme resistensi bawaan ini juga dapat berupa terdapatnya struktur khusus pada bakteri yang melindunginya dari paparan antimikroba, contohnya bakteri TB dan lepra memiliki kapsul pada dinding sel, sehingga resisteniterhadapiobat-obatiantimikroba.
2.Resistensi sekunder.
Mekanisme resistensi sekunder (dapatan) diperoleh akibat kontak dengan agen antimikroba dalam waktu yang cukup lama dengan frekunsi yang tinggi, sehingga memungkinkan terjadinya mutasi pada mikroorganisme. Terbentuknya mutan yang resisten terhadap obat antimikroba dapat secara cepat (resistensi satu tingkat) dan dapat pula terjadi dalam kurun waktu yang lama (resistensi multi tingkat). contoh resistensi satu tingkat adalah pada INH, streptomisin, dan tifampisin; dan contoh resistensi multitingkat adalah resistensi pada penisilin, eritromisin, dan tetrasiklin.terbentuknya mutan mikroorganisme yang resistan terhadap antimikroba ini dapat menimbulkan adanya ketergantungan (dependensi) mikroorganisme mutan tehadap agen antimikroba.
Mekanisme resistensi dapatan juga dapat berlangsung akibat adanya mekanisme adaptasi atau penyesuaian aktivitas metabolisme mikroorganisme untuk melawan efek obat, contohnya dengan perubahan pola enzim. Dengan demikian, mikroorganisme dapat membentuk enzim yang menguraikan antibiotic. Misalnya pembentukan enzim penisilinase untuk menguraikan penisilin, enzim asetilase terhadap streptomisin, kanamisin, dan neomisin.
Mekanisme resistensi dapatan yang lain adalah dengan memperkuat diding sel mikroorganisme sehingga menjadi impermeable terhadap obat, dan perubahan sisi perlekatan pada diding sel. Adapula mimroorganisme yang melepaskan diding selnya sehingga menjadi tidak peka lagi terhadap penisilin, contohnya kuman berbentuk L.
3.Resistensi episomal
Resistensi episomal disebabkan oleh faktor genetik di luar kromosom (episom=plasmid    pada plasmidnya yang dapat menular pada bakteri lain yang memilki kaitan spesies melalui kontak sel secara konjugasi maupun transduksi. Contohnya Salmonella, Escherichia, Yersinia, Klebsiela, Serratia, Proteus (Zainal,2010)


D.Mekanisme Resistensi Mikroba
1.  Resistensi Alamiah
Faktor yang menentukan sifat resistensi atau sensitivitas mikroba terhadap antimikroba terdapat pada elemen yang bersifat genetik. Didasarkan pada lokasi elemen untuk resistensi ini, dikenal resistensi kromosom dan resistensi ekstrakromosomal. Sifat genetik dapat menyebabkan suatu mikroba sejak awal resistensi terhadap suatu antimikroba. Resistensi ini disebut resistensi genetika atau resistensi bawaan atau resistensi alamiah
2.  Resistensi Didapat
Mikroba yang semula peka terhadap suatu antimikroba dapat berubah sifat genetiknya menjadi kurang atau tidak peka. Perubahan sifat genetik  terjadi karena kuman memperoleh elemen genetik yang membawa sifat resisten. Resistensi ini disebut dengan resistensi didapat (acquired resistant). Elemen resistensi ini dapat diperoleh dari luar dan disebut resistensi yang dipindahkan (transferred resistant), dapat juga terjadi akibat mutasi genetik spontan atau akibat rangsangan anti mikroba (induced resistant).
Kemampuan bakteri resistensi untuk tetap tumbuh dan multifikasi  dengan kehadiran antimikroba menggambarkan adanya perbedaan genetika bakteri resisten dengan bakteri yang sensitif. Bagaimana terjadinya perubahan genetika dari bakteri yang sensitif menjadi bakteri yang resisten terhadap anti biotika belum dapat dijelaskan secara pasti.
Dengan mutasi spontan gen mikroba berubah, sehingga yang sensitif terhadap suatu antimikroba menjadi resisten. Dengan adanya antimikroba tersebut terjadi seleksi, strain yang masih sensitif terbasmi, sehingga berakhir dengan terbentuknya populasi resisten.
Mikroba dapat berubah resisten akibat memperoleh suatu elemen pembawa faktor resisten. Faktor ini mungkin didapat dengan cara transformasi, transduksi atau konyugasi. Dengan transformasi, mikroba menginkorporasi faktor-faktor langsung dari media disekitarnya (lingkungannya). Pada transduksi, faktor resistensi dipindahkan dari suatu mikroba resisten ke mikroba sensitif dengan perantara bakteriofag. Dalam hal ini yang dipindahkan adalah suatu komponen DNA dari kromosom yang mengandung faktor resisten tersebut. Dengan konyugasi terbentuk hubungan langsung antara isi sel bakteri khususnya komponen yang membawa faktor resistensi. Faktor resistensi yang dipindahkan terdapat dalam dua bentuk yaitu plasmid dan episom. Plasmid merupakan suatu elemen genetik (DNA-plasmid) yang terpisah dari DNA-kromosom, jadi merupakan suatu DNA non kromosom. Tidak semua plasmid dapat dipindahkan. Yang dapat dipindahkan adalah plasmid faktor R, disebut plasmid penular (infectious plasmids). Faktor R ini terdiri dari dua unit yaitu segmen RTF (resistance transfer factor) dan determinan-r (unit-r).Segmen RTF memungkinkan terjadinya perpindahan faktor R. Masing-masing unit-r membawa sifat resistensi terhadap satu unit mikroba. Dengan demikian berbagai unit-r pada 1 plasmid faktor R membawa sifat resistensi terhadap berbagai anti mikroba sekaligus (Staf Pengajar Universitas Indonesia,1998).
E.Resistensi pada HIV
Resistensi juga menjadi masalah yang serius terhadap terapi ART untuk terapi HIV dan AIDS. Dengan semakin luasnya penggunaan ART dalam beberapa tahun belakangan ini, sangat diperlukan sebuah survei nasional untuk mendeteksi dan memonitor efek resistensi virus HIV terhadap pengobatan ART. Resistensi terhadap pengobatan HIV di Indonesia masih belum terlalu tinggi. Binomial sequential sampling technique yang dilakukan medio 2006-2008 memprediksi bahwa prevalensi resistensi di kalangan IDU pengguna ART di Jakarta masih di bawah 5%. Binomial sequential sampling technique yang dilakukan medio 2006-2008 memprediksi bahwa prevalensi resistensi di kalangan IDU pengguna ART di Jakarta masih di bawah 5%.
Sedangkan secara global, survei yang dilakukan pada 52 negara (tidak termasuk Indonesia), menunjukkan bahwa tingkat resistensi, lost of follow up dan gagal pengobatan menunjukkan tren peningkatan. Di Amerika dan Eropa angkanya berkisar antara 17%. Mungkin kita sedikit beruntung dikarenakan masuknya HIV ke Indonesia  terlambat jika dibandingkan dengan Amerika. Namun sangat berpotensi untuk terjadinya resistensi mengingat sampai saat ini sebanyak 50% pengobatan HIV di Indonesia mengalami lost of follow up. Sementara saat ini HIV-Drug Resistence Monitoring survey sedang dilakukan sebagai uji coba di salah RS di Jakarta terhadap 110 sampel dari 165 orang yang eligible. Kemudian diikuti secara kohort sehingga hanya tinggal 76 sampel yang diteliti. Menunjukkan bahwa 1st regimen yang diberikan pengobatan masih memberikan respon (terjadi peningkatan CD4 dari rata-rata 70 menjadi 96).
Resistensi ART bisa acquired maupun transmitted. Jika seorang ODHA mengalami resistensi dikarenakan adherence pengobatan yang buruk maka disebut sebagai acquired resistensi. Sedangkan jika seseorang mengalami resisten karena virus yang didalam tubuhnya sudah resisten pada saat pertama kali terinfeksi, maka disebut sebagai transmitted resistensi.
Di Indonesia akan dikembangkan HIVDR Threshold Survey di tahun 2011 ini yang berfokus di Surabaya dan Bali dengan sasarannya pada transmisi seksual, baik pekerja seks, waria maupun perempuan berisiko lainnya. Pada tahun 2010 telah dilakukan HIVDR  monitoring survey di 3 tempat. Setiap tahunnya direncakanan ada 3 tempat baru. Sehingga semakin lama semakin banyak RS yang melakukan HIV DR Monitoring survey.  Lab Mikrobiologi UI saat ini sedang menunggu akreditasi WHO untuk dapat melaksanakan HIVDR genotyping. Diharapkan tahun 2012 Surabaya sudah dapat menjadi centre untuk wilayah timur.
Problem resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik mula-mula ditemukan pada tahun 1980-an dengan ditemukannya kasus multipel resisten pada strain bakteri Streptococcus pneumoniae, Mycobacterium tuberculosis, Staphylococcus aureus, dan Enterococcus faecalis. Semakin tingii penggunaan antibiotik semakin tinggi pula tekanan selektif proses evolusi dan poliferasi strain mikroorganisme yang bersifat resisten. Mikroorganisme patogen yang resisten terhadap antibiotik sangat sulit dieliminasi selama proses infeksi, dan infeksi oleh beberapa strain bakteri dapat berakibat kematian .












BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.  Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance) adalah hasil dari mikroba mengubah cara-cara yang mengurangi atau menghilangkan efektivitas obat, bahan kimia, atau agen lain untuk menyembuhkan atau mencegah infeksi.
2.  Resintensi mikroba dapat digolongkan menjadi tiga yaitu resitensi primer,sekunder dan episomal.
3.  Mekanisme resitensi ada dua yaitu resistensi alamiah dan resistensi didapat

B.  Saran
Kami sebagai penyusun makalah ini menyarankan kepada para pembaca untuk senantiasa menyampaikan suatu ilmu yang telah diketahui terutama materi yang kami kaji saat ini.














DAFTAR PUSTAKA
Desanti, Desi. 2011.http://www.anneahira.com/mekanisme-kerja-antibiotik.html. diakses tanggal 6 januari 2013.
Mujab, Agus Saeful Mujab. 2011.http://asm-web.blogspot.com/2011/04/antibiotik-tak-rasional-bisa-ada.html) diakses tanggal 6 januari 2013.
         Pelczar, Michael dan Chan. ECs. 1988. Dasar-dasar Mikro Biologi. Jakarta: Universitas Indonesia.
          Promote Burner.com . 2009. http://wempigembul.blogspot.com/2009/10/antibiotik.html diakses tanggal 6 januari 2013.
         Staf pengajar Universitas Indonesia. 1998. Buku Ajar Mikro Biologi Kedokteran. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Zainal Abidin, Muhammad. 2010. http://www.masbied.com/2010/06/03/antibiotik/. Diakses tanggal 6 januari 2013.